Generasi Z, yang terbiasa dengan kebebasan digital dan otonomi tinggi, harus beradaptasi dengan sistem pemasyarakatan yang membatasi akses teknologi dan menerapkan hierarki ketat. Penelitian bertujuan untuk menganalisis strategi dan pola adaptasi yang dikembangkan narapidana Gen Z dalam menghadapi kondisi pemenjaraan. Penelitian ini mengkaji proses adaptasi narapidana Generasi Z di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Lubuk Pakam, yang menghadapi tantangan unik sebagai generasi digital natives dalam lingkungan dengan keterbatasan teknologi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif, mengumpulkan data melalui wawancara , observasi, dan studi dokumentasi. Informan penelitian terdiri dari 3 narapidana Gen Z berusia 18-28 tahun dengan kasus narkotika dan 1 Kepala Seksi Bimbingan Narapidana dan Kegiatan Kerja. Analisis data menggunakan kerangka teoritis Pain of Imprisonment (Sykes) dan Strain Theory (Merton). Hasil penelitian menunjukkan narapidana Gen Z mengembangkan strategi adaptasi multidimensional meliputi: adaptasi mental-spiritual melalui religiusitas dan refleksi diri, adaptasi sosial dengan membangun jaringan berbasis minat dan sistem barter non-kekerasan, serta adaptasi teknologi melalui pemanfaatan video call dan program pelatihan. Mereka menghadapi tantangan overcrowding, sanitasi buruk, dan "digital disconnection" yang menjadi deprivasi tambahan selain lima deprivasi klasik Sykes. Pola adaptasi menunjukkan kecenderungan Conformity, Innovation dan Ritualism sesuai teori Strain, tanpa indikasi signifikan Retreatism, atau Rebellion. Penelitian menyimpulkan bahwa narapidana Gen Z memerlukan pendekatan pembinaan yang disesuaikan dengan karakteristik generasional mereka, termasuk integrasi teknologi dalam program rehabilitasi untuk mendukung reintegrasi sosial yang lebih efektif.
Copyrights © 2025