Latar Belakang: Halusinasi pendengaran bentuk gangguan persepsi sensori yang ditandai dengan mendengar suara atau bisikan yang tidak nyata. Gejala ini dapat memicu perilaku agresif dan kecenderungan isolasi sosial. Pendekatan non-farmakologis seperti art therapy dinilai bermanfaat dalam membantu pasien mengelola halusinasi secara mandiri. Tujuan: Mendekripsikan penerapan art therapy menggambar dan mewarnai dalam asuhan keperawatan pada Pasien dengan masalah gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran di RSUD dr. Soeselo Kabupaten Tegal. Metode: Studi kasus ini melibatkan tiga pasien (Tn. S, Tn. A, dan Tn. W) yang menunjukkan gejala halusinasi pendengaran. Implementasi keperawatan dilakukan selama tiga hari (16–18 Juni 2025) melalui pendekatan bertahap, yaitu teknik menghardik halusinasi, edukasi minum obat, distraksi melalui menggambar dan mewarnai, latihan bercakap-cakap, dan anjuran menjadikan menggambar sebagai rutinitas. Analisa data yang digunakan yaitu distribusi frekuensi dan persentase. Hasil: Adanya penurunan signifikan pada indikator verbalisasi mendengar bisikan dan perilaku halusinasi. Skor ketiga pasien mengalami penurunan dari kategori “meningkat” pada hari pertama menjadi “menurun” pada hari ketiga, yang menunjukkan efektivitas dari intervensi art therapy. Kesimpulan: Art therapy terbukti efektif dalam mengurangi intensitas dan frekuensi halusinasi pendengaran pada pasien dengan gangguan persepsi sensori. Intervensi ini dapat dijadikan sebagai alternatif terapi non-farmakologis dalam praktik keperawatan jiwa.
Copyrights © 2025