Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis model ideal Pendidikan Agama Islam (PAI) bagi masyarakat marginal dan mendeskripsikan penerapannya pada anak jalanan di Kota Bandung. Studi dilakukan pada tiga komunitas: Komunitas Musik untuk Langit, Sekolah Anak Sukajadi (SAHAJA), dan Sekolah Anak Rel (SAR). Metode yang digunakan adalah Participatory Action Research (PAR) dengan pendekatan kualitatif melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan refleksi bersama pendamping. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model PAI yang ideal bagi masyarakat marginal dibangun di atas paradigma pendidikan transformatif, memadukan gagasan Paulo Freire tentang pendidikan yang membebaskan, pemikiran Hasan Langgulung mengenai integrasi akal, hati, dan keterampilan, serta konsep tazkiyatun nafs dari Al-Ghazali. Model ini bersifat nonformal, relasional, kontekstual, dan transformatif. Penerapan di tiga komunitas berlangsung melalui interaksi sehari-hari, keteladanan, kegiatan seni, diskusi kelompok, serta pendampingan spiritual. Evaluasi tidak berbasis tes, melainkan pada perubahan perilaku, kesadaran spiritual, dan keterampilan sosial anak. Berdasarkan temuan ini, penulis menawarkan model konseptual "Madrasah Inklusif" sebagai pengembangan PAI adaptif bagi kelompok marginal, dengan ciri keterbukaan, fleksibilitas, dan berbasis komunitas
Copyrights © 2025