Abstrak. Pendidikan merupakan faktor utama dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) di Indonesia. Namun, kebijakan kenaikan Uang Kuliah Tunggal (UKT) pada masa transisi pemerintahan Prabowo Subianto memicu polemik publik, khususnya terkait akses pendidikan tinggi bagi kelompok menengah ke bawah. Penelitian ini bertujuan menganalisis sentimen opini publik terhadap kebijakan tersebut dengan menggunakan model IndoBERT, sebuah model pemrosesan bahasa alami (NLP) berbasis Transformer yang diadaptasi untuk bahasa Indonesia. Data penelitian diperoleh dari cuitan di media sosial X (Twitter) melalui teknik web scraping dengan kata kunci tertentu. Data kemudian diproses dan diklasifikasikan menggunakanIndoBERT ke dalam kategori sentimen positif, negatif, dan netral. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas opini publik bersifat negatif, dengan dominasi narasi kritik terhadap ketidakadilan serta kekhawatiran eksklusi pendidikan bagi masyarakat kurang mampu. Temuan ini menegaskan adanya resistensi publik terhadap kebijakan kenaikan UKT dan pentingnya transparansi serta kepekaan sosial dalam perumusan kebijakan pendidikan. Penelitian ini merekomendasikan evaluasi menyeluruh terhadap skema pembiayaan pendidikan tinggi serta pemanfaatan analisis sentimen media sosial sebagai indikator respons publik dalam pengambilan keputusan.
Copyrights © 2025