Perkerasan jalan konvensional, baik tipe lentur maupun kaku, memiliki keterbatasan kinerja. Perkerasan lentur rentan terhadap deformasi permanen dan retak akibat beban lalu lintas berulang, sedangkan perkerasan kaku memerlukan waktu pengerjaan yang lebih lama. Untuk mengatasi kelemahan tersebut, dikembangkan perkerasan semi lentur yang diharapkan dapat menggabungkan kekuatan struktural perkerasan kaku dengan fleksibilitas perkerasan lentur melalui penggunaan material grouting berbasis CR-ECC (Crumb Rubber–Engineered Cementitious Composites). Penelitian ini menggunakan CR-ECC sebagai material grouting yang memanfaatkan limbah fly ash, abu cangkang sawit, dan crumb rubber untuk mendukung konsep keberlanjutan. CR-ECC diformulasikan dari mortar ECC dengan variasi fly ash dan abu cangkang sawit sebesar 0–15% dari berat semen untuk menentukan campuran optimum, kemudian dimodifikasi dengan crumb rubber sebesar 0–12,5%. Campuran optimum digunakan sebagai material grouting pada dua varasi kerikil aspal porus, yaitu variasi aspal murni dan aspal–styrofoam. Pengujian kuat tekan dilakukan pada benda uji kubus berukuran 150×150×150 mm, sedangkan pengujian kuat lentur dilakukan pada balok berukuran 600×150×150 mm, keduanya pada umur 3 hari. Hasil menunjukkan bahwa kuat tekan komposit aspal murni mencapai 4,470 MPa, sedangkan aspal–styrofoam sebesar 4,404 MPa. Pada uji lentur, aspal murni memiliki nilai 1,640 MPa dan aspal–styrofoam 1,600 MPa, dengan perbedaan yang relatif kecil.
Copyrights © 2025