Penelitian ini mengkaji penafsiran Maurice Bucaille terhadap ayat-ayat sains penciptaan manusia dalam Al-Qur’an. Latar belakang masalahnya adalah munculnya diskursus harmonisasi wahyu dan sains modern, dengan Bucaille sebagai tokoh sentral yang mengklaim Al-Qur’an mendahului penemuan ilmiah. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pandangan Bucaille tentang sulalah min tin, nutfah, alaqah, mudghah, izham lahm dan khalqan akhar dalam Q.S. al-Mu’minun (23:12-14) serta ayat-ayat Q.S. Al-Hijr (15:26) dan Q.S. Al-Sajdah (32:7-9), menguraikan metodologi tafsir sainsnya, serta mengevaluasi relevansi dan kritik terhadap pemikirannya. Menggunakan metode kualitatif dengan studi pustaka, penelitian ini menganalisis data secara deskriptif-analitis dan kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bucaille menafsirkan ayat-ayat tersebut secara literal dengan mencari korespondensi langsung dengan temuan embriologi, menggunakan sains sebagai validasi wahyu. Metodologinya adalah konkordisme ekstrem yang bertujuan membuktikan mukjizat ilmiah Al-Qur’an. Meskipun relevan dalam memicu dialog sains-agama dan memperkuat iman, pemikirannya dikritik karena risiko pemaksaan makna, anakronisme, selektivitas data, dan pengabaian dimensi non-ilmiah Al-Qur’an. Kesimpulan menyarankan pentingnya pendekatan seimbang dalam tafsir sains.
Copyrights © 2025