Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) merupakan bencana tahunan dengan dampak multidimensional di Indonesia, khususnya di Provinsi Kalimantan Barat yang memiliki hutan dan lahan gambut yang luas dan rentan. Penelitian ini bertujuan untuk untuk memanfaatkan kapabilitas Google Earth Engine (GEE) dalam memproses data satelit multi-temporal guna memetakan distribusi dan dinamika kekeringan vegetasi sebagai indikator kunci kerentanan kebakaran dengan melalui identifikasi dan memetakan wilayah hotspot (titik api) pada hutan dan lahan gambut di Kalimantan Barat tahun 2025, memetakan wilayah distribusi hotspot (titik api) pada hutan dan lahan gambut di Kalimantan Barat tahun 2025, dan memetakan kelas NDDI (Normalized Difference Drought Index) pada hutan dan lahan gambut di Kalimantan Barat tahun 2025. Metode yang digunakan memanfaatkan platform GEE untuk pemrosesan data satelit multi-temporal, termasuk data hotspot (titik api) dari MODIS/FIRMS dan citra Sentinel-2 untuk perhitungan NDDI. Hasil penelitian mengidentifikasi sebaran hotspot dengan tingkat kepercayaan bervariasi, mulai dari 61% hingga 99,93%, yang terkonsentrasi pada hutan dan lahan gambut. Analisis NDDI menunjukkan nilai hingga 0,46, yang mengindikasikan kondisi kekeringan berat pada vegetasi. Terdapat korelasi yang kuat antara nilai NDDI tinggi dan probabilitas hotspot yang mencapai 90,96%, mengonfirmasi hutan dan lahan gambut mengalami dehidrasi merupakan zona rawan kebakaran tertinggi. Studi ini menyimpulkan bahwa integrasi data penginderaan jauh melalui GEE dan penerapan NDDI efektif untuk memetakan kerentanan kebakaran secara spasial dan temporal. Temuan ini memberikan dasar kuat bagi pengembangan sistem peringatan dini yang akurat dan responsif, sehingga mendukung upaya pencegahan dan mitigasi karhutla yang lebih efektif di masa mendatang untuk meminimalkan dampak lingkungan, sosial, dan ekonomi.
Copyrights © 2025