Harga pokok produksi merupakan komponen penting dalam menentukan harga jual suatu produk serta dalam pengambilan keputusan manajerial. Bengkel Las Asep Teknik sebagai pelaku usaha mikro di bidang jasa konstruksi logam masih menggunakan metode sederhana dalam menghitung harga pokok produksi, yang berpotensi menghasilkan perhitungan yang kurang akurat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perhitungan harga pokok produksi yang dilakukan oleh bengkel dan membandingkannya dengan metode full costing. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan teknik pengumpulan data melalui dokumentasi, observasi, dan wawancara langsung di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perhitungan harga pokok produksi versi bengkel adalah sebesar Rp37.070.000, sedangkan berdasarkan metode full costing diperoleh hasil sebesar Rp37.647.775 . Terdapat selisih sebesar Rp577.775 yang disebabkan oleh tidak dimasukkannya beban penyusutan dalam perhitungan internal bengkel. Metode full costing mengalokasikan seluruh elemen biaya secara lengkap, meliputi biaya bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, serta biaya overhead pabrik tetap dan variabel, termasuk penyusutan aset tetap seperti mesin las dan peralatan kerja lainnya. Selisih tersebut menunjukkan pentingnya penggunaan metode akuntansi biaya yang komprehensif untuk memperoleh gambaran yang lebih akurat mengenai total biaya produksi.
Copyrights © 2025