Kapasitas merupakan salah satu indikator kunci untuk menilai kinerja suatu pabrik. Overall Equipment Effectiveness (OEE) adalah alat ukur efisiensi produksi yang terdiri dari tiga indikator: availability, performance, dan quality. PT XYZ merupakan perusahaan terkemuka dalam hilirisasi kelapa yang memproduksi minyak kelapa mentah (CNO). Dalam proses produksinya, digunakan tujuh belas mesin ekstraksi. Permasalahan utama yang muncul adalah tingginya frekuensi downtime dengan durasi yang cukup lama. Selama tiga bulan pengamatan, nilai OEE hanya mencapai 57% yang menandakan inefisiensi yang cukup signifikan. Analisis Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) menyimpulkan bahwa cage bar, pinion, worm, dan adukan merupakan suku cadang kritis. Data downtime menunjukkan bahwa sekitar 85 % gangguan mesin disebabkan oleh kerusakan pada suku cadang tersebut. Berdasarkan hasil investigasi, penyebab utamanya adalah keausan (worn out) pada komponen-komponen kritis. Akar masalahnya berasal dari tiga faktor: (1) suku cadang telah mencapai running hours maksimal, (2) penanganan yang kurang tepat, dan (3) force deterioration akibat beban berlebihan. Berdasarkan temuan tersebut, direkomendasikan (1) penjadwalan overhaul untuk meningkatkan preventive maintenance. (2) Penambahan inventory suku cadang kritis untuk memastikan ketersediaan.Kata kunci: OEE, minyak kelapa, downtime, worn out
Copyrights © 2025