Artikel ini membahas peran semantik dalam menafsirkan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam upacara Tabuik di Pariaman, Sumatera Barat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui pengamatan langsung dan wawancara mendalam dengan Pak Arif, seorang warga setempat berusia 50 tahun yang telah aktif mengikuti upacara Tabuik sejak muda. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa unsur-unsur Tabuik, seperti buraq, bungosalapan, dan tonggak atam, memiliki makna simbolik yang kuat. Misalnya, buraq dipahami sebagai simbol kekuatan spiritual dan harapan, sedangkan bungo salapan mencerminkan nilai-nilai persatuan dan keterkaitan antara adat istiadat setempat dengan ajaran Islam. Simbol-simbol ini tidak hanya sekadar ornamen; tetapi juga berfungsi sebagai penyampai pesan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Analisis semantik terhadap simbol-simbol ini membantu memperjelas bagaimana masyarakat memahami dan melestarikan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi mereka. Dengan demikian, semantik budaya menjadi alat penting untuk mempertahankan identitas, memperkuat solidaritas sosial, dan menghidupkan kembali makna yang terkandung dalam tradisi lokal seperti Tabuik.
Copyrights © 2025