Peningkatan kasus demam berdarah (DBD) telah menjadi perhatian global dalam beberapa dekade terakhir. Demam berdarah merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa penyakit ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius di berbagai wilayah, baik perkotaan maupun pedesaan. Perubahan iklim merupakan faktor lingkungan utama yang mempengaruhi dinamika epidemiologi DBD melalui variasi suhu, curah hujan, dan pola cuaca lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan tinjauan literatur tentang dampak perubahan iklim terhadap penyebaran demam berdarah di Indonesia. Metode studi yang digunakan adalah literature review dengan mengumpulkan data sekunder dari jurnal yang dipublikasikan dalam rentang waktu lima tahun terakhir, yaitu 2019-2024. Temuan penelitian menunjukkan bahwa perubahan iklim mempengaruhi dinamika epidemiologi DBD melalui perubahan suhu, curah hujan, dan pola cuaca lainnya yang dapat memengaruhi penyebaran dan intensitas penyakit ini. Studi menunjukkan bahwa curah hujan yang tinggi menciptakan kondisi ideal bagi perkembangbiakan nyamuk vektor DBD, sementara suhu udara yang tinggi mempercepat siklus hidup nyamuk dan replikasi virus dalam tubuh nyamuk. Kelembapan udara juga berperan dalam meningkatkan kelangsungan hidup telur dan perkembangan larva nyamuk. Namun demikian, hasil penelitian yang bervariasi menyoroti kompleksitas faktor-faktor lokal yang mempengaruhi pengaruh perubahan iklim terhadap DBD di berbagai wilayah. Kesimpulan dari studi ini memberikan wawasan yang penting untuk merancang strategi pencegahan dan pengendalian yang efektif terhadap DBD, yang sesuai dengan karakteristik geografis dan iklim lokal di Indonesia.
Copyrights © 2024