Pada fase remaja, individu memiliki ambisi yang semakin meninggi, sering tidak realistis, dan pemikirannya terlalu idealis. Seringkali remaja menyalahkan diri sendiri karena sesuatu yang tidak mereka terima di kehidupan nyata. Sehingga, dengan kata lain remaja seringkali memiliki penilaian atau kritik terhadap dirinya sendiri ketika berinteraksi dalam kehidupan sosialnya. ketika individu mengarahkan kritik dirinya untuk selalu berpikiran negatif tentang dirinya atau mencaci maki dirinya maka muncul sikap kritik diri tinggi yang dapat mempengaruhi harga diri seseorang dan berdampak negatif pada kondisi psikologis. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis dan merangkum temuan-temuan penelitian mengenai kontribusi kritik diri terhadap kondisi psikologis remaja. Metode yang digunakan adalah kajian literatur. Pencarian artikel dilakukan melalui google scholar, sciencedirect.com, dan EBSCO dengan kata kunci “self-criticism”, “kritik diri”, dan “self-criticism in adolescence”. Hasil penelitian mengungkap enam tema besar, yaitu gejala depresi, gangguan makan, ide bunuh diri, gejala kecemasan, menyakiti diri sendiri, dan dampak psikologi lainnya. Sehingga perlu dikembangkan intervensi yang tepat untuk mengurangi kritik diri dan meningkatkan kesejahteraan mental khususnya pada remaja.
Copyrights © 2024