Penelitian ini mengulas bagaimana kolaborasi berbagai pihak atau aktor dalam konsep Pentahelix berperan dalam pengembangan Taman Wisata Alam (TWA) dan Pusat Latihan Gajah (PLG) Seblat yang berada di Kabupaten Bengkulu Utara. Kawasan ini menyimpan potensi luar biasa sebagai destinasi ekowisata, terutama karena kekayaan alamnya yang masih asri dan keberadaan gajah Sumatera yang menjadi daya tarik utama. Sayangnya, berbagai tantangan masih dihadapi, mulai dari keterbatasan infrastruktur, minimnya jumlah kunjungan wisatawan, hingga belum optimalnya peran dan sinergi antar pemangku kepentingan.Melalui pendekatan kualitatif dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi, serta analisis model Miles dan Huberman, artikel ini memetakan peran masing-masing aktor dalam pendekatan Pentahelix. Pemerintah, khususnya melalui BKSDA, telah menjalankan peran regulatif, meskipun masih terkendala anggaran. Akademisi hadir sebagai pencetus ide dan kajian, namun dukungan riset masih terbatas. Dunia usaha telah turut mendukung melalui penyediaan layanan wisata, namun investasi sektor swasta masih belum signifikan. Masyarakat lokal, melalui komunitas seperti Pokdarwis dan Elephant Care Center, aktif terlibat meskipun kapasitas mereka masih perlu diperkuat. Sementara itu, media yang diharapkan mampu memperluas jangkauan informasi dan promosi, belum tampil secara konsisten dan strategis.Dari temuan ini, tampak bahwa keberhasilan pengembangan TWA dan PLG Seblat sangat bergantung pada penguatan sinergi lintas sektor. Komitmen anggaran, pemberdayaan komunitas, serta strategi komunikasi yang lebih terintegrasi menjadi kunci dalam mewujudkan kawasan ini sebagai destinasi wisata konservasi yang berkelanjutan dan berdaya saing.
Copyrights © 2025