Untuk bisa mengetahui keberadaan ritme editing sebuah film sangatlah mudah. Kita cukup dengan sadar menyimak pergantian gambar yang terjadi akibat cutting. Selanjutnya kita akan menyimpulkan tentang irama serta tempo film sebagai cepat atau lambat dimana kemudian disebut sebagai pace, berdasarkan sebuah pola. Tapi apakah ritme dan pace film hanya terbentuk melalui apa yang disebutkan sebelumnya? Juga apakah ritme editing keberadaannya hanya untuk sekedar membuat irama tanpa arah dan fungsi? Jawabannya adalah tidak. Keberadaan ritme editing film tidak boleh seperti itu karena dia harus bersinergi dengan naratif filmya. Jadi jika naratif memiliki elemen yang ditata maka ritme editing filmnya juga harus mengusahakan tatanan dari faktor ritmenya mejadi bentuk yang tepat. Karena arahan bentuk ritme yang salah dari editing akan fatal dampaknya bagi film. Respon negatif bisa bermunculan mengenai film yang membosankan karena terasa lambat atau bikin pusing karena terlalu cepat ritmenya. Lalu bagaimana cara mengetahui bahwa ritme yang dibentuk melalui editing sudah tepat? Apalagi jika tatanan elemen naratif film mengarah ke genre tertentu yang pasti mengerucut jadi sebuah konvensi. Tentu cepat atau lambatnya film, baik di adegan tertentu juga keseluruhan film akan memperhatikan beberapa hal terlebih dahulu sebelum dibentuk. Tulisan ini berusaha mengetahui apakah faktor ritme film yang diolah dalam sebuah film memiliki bentuk yang tepat sehingga mendukung bertemunya konvensi dengan harapan atau mood yang ingin dimunculkan dari sebuah film. Cara yang dilakukan adalah mengurai perihal ritme editing yang terjadi dibatasan durasi yang sama dari dua film yang berbeda, yaitu film horor. Kata kunci: ritme editing, pace film, genre film
Copyrights © 2024