Abstrak. Otomatisasi dan teknologi digital telah menimbulkan kekhawatiran akan penggantian tenaga kerja manusia oleh mesin. Namun, studi ini berargumen bahwa otomatisasi tidak serta-merta menggantikan pekerja, melainkan menciptakan transformasi peran dan kesempatan baru bagi tenaga kerja. Metode yang dipergunakan melalui tinjauan literatur, melalui tinjauan literatur berbasis deskriptif kualitatif. Studi ini bertujuan untuk mengungkap bahwa efek sosial ekonomi otomatisasi bersifat multidimensi: di satu sisi, teknologi meningkatkan produktivitas dan efisiensi bisnis; di sisi lain, pekerja dituntut untuk beradaptasi melalui peningkatan keterampilan, upskilling, atau pelatihan ulang, reskilling. Objek penelitian dilakukan pada sektor, oleh penulis terkait studi kasus dari sektor manufaktur di Indonesia menunjukkan bahwa kolaborasi antara manusia dan teknologi justru menghasilkan lapangan kerja baru yang lebih berbasis pengetahuan, seperti pengawas mesin, analis data, spesialis pemeliharaan teknologi, dsb. Tantangan utama terletak pada kesenjangan keterampilan skill gap dan akses yang tidak merata ke pelatihan, terutama bagi pekerja usia tua dan sektor informal. Studi yang dilakukan oleh tim penulis menawarkan hasil dan kesimpulan antara lain merekomendasikan pendekatan kebijakan yang berfokus pada pendidikan vokasi, insentif bagi perusahaan yang berinvestasi dalam pelatihan pekerja, tunjangan bagi pekerja atau pegawai yang dapat beradaptasi dengan cepat sesuai target perusahaan yang mampu mempelajari dan mempergunakan kecerdasan buatan, serta perlindungan sosial untuk kelompok lanjut usia, otomatisasi dapat menjadi katalis bagi evolusi pekerjaan yang inklusif, alih-alih sekadar ancaman pengangguran.
Copyrights © 2025