Pengalaman hidup singkat bersama pengungsi Karen, mendorong penulis berbicara tentang persoalan hubungan Negara dan pengungsi. Kaum minoritas di Burma tidak seluruhnya dapat dikuasai baik pada masapemerintahan kolonial Inggris maupun pemerintahan modern. Maka rezim pemerintah pusat mengembangkan ide militerisasi yang memaksakan ide federasi lewat Burmanisasi, yaitu penyeragaman demi keamanan. Halini tidak dapat diterima oleh suku-suku kecil, yang dianggap bodoh, terbelakang, dan karena itu ditindas. Muncul konflik yang luas dan mendalam yang bermuara pada tuntutan seksesi dan kemerdekaan. Yang diperkarakan ialah identitas, batas tanah, dan lintas batas. Negara modern menghendaki batas fixed. Sedangkan kaum minoritas di pinggiran batas Negara modern menghendaki fleksibilitasbatas. Penulis menawarkan jalan keluar dari tegangan ini dengan mengajukanhipotesis mengenai Negara sebagai konsep dinamis, mengikuti filsafat Michel Foucault.
Copyrights © 2007