ABSTRACT Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi praktik baik dalam membangun karakter kemandirian siswa tunanetra di SMA Negeri 2 Lubuk Pakam, sekolah inklusif yang memiliki siswa penyandang tunanetra. Objek penelitian ini adalah karakter kemandirian siswa tunanetra, dengan subjek kepala sekolah, guru, siswa tunanetra, dan teman sejawat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan berlandaskan teori behaviorisme, yang menekankan pembentukan perilaku melalui interaksi sosial dan penguatan (reinforcement). Fokus penelitian meliputi pengembangan kemandirian dalam konteks inklusif, peran guru, serta dukungan lingkungan sekolah. Teknik analisis data menggunakan model Miles dan Huberman: reduksi data, penyajian data, dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemandirian siswa tunanetra terbentuk melalui dukungan sistematis. Siswa mampu menyelesaikan tugas secara mandiri, menggunakan teknologi bantu seperti pembaca layar, dan aktif dalam kegiatan kelompok. Guru berperan penting melalui metode pembelajaran adaptif seperti penjelasan verbal, rekaman audio, dan bimbingan personal, serta penguatan positif berupa pujian. Teman sebaya turut mendorong kemandirian melalui interaksi sosial yang suportif dan bantuan yang tidak menciptakan ketergantungan. Lingkungan sekolah yang aman dan inklusif mendukung siswa tunanetra dalam berekspresi dan berpartisipasi. Secara kelembagaan, sekolah menyediakan fasilitas ramah disabilitas, seperti jalur akses, komputer dengan perangkat lunak khusus, dan alat tulis braille. Sekolah juga rutin mengadakan pelatihan dan bekerja sama dengan lembaga luar untuk meningkatkan kapasitas layanan inklusif. Keywords: Pendidikan inklusif 1, kemandirian 2, siswa tunanetra 3 siswa tunanetra
Copyrights © 2025