Mahasiswa rantau merupakan individu yang menjalani pendidikan tinggi jauh dari daerah asal dan keluarga. Kondisi ini sering menimbulkan tekanan psikologis akibat perbedaan budaya, lingkungan baru, serta tuntutan adaptasi. Ketidakmampuan dalam menyesuaikan diri dapat memicu ketergantungan terhadap smartphone yang berujung pada kondisi psikologis yang dikenal sebagai nomophobia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara penyesuaian diri dengan nomophobia pada mahasiswa rantau di Kota Padang. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan teknik pengambilan sampel incidental sampling. Jumlah partisipan sebanyak 384 mahasiswa rantau. Pengumpulan data dilakukan menggunakan dua instrumen, yaitu skala penyesuaian diri berdasarkan teori Scheneiders (1955) dan Nomophobia Questionnaire (NMP-Q 10) oleh Yildirim & Correia (2015). Data dianalisis menggunakan teknik korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara penyesuaian diri dan nomophobia. Semakin tinggi kemampuan penyesuaian diri, semakin rendah tingkat nomophobia yang dialami. Penelitian ini menegaskan pentingnya kemampuan adaptasi dalam menghadapi tekanan sosial dan emosional di lingkungan baru guna mencegah ketergantungan terhadap perangkat digital.
Copyrights © 2025