Abstrak Perkembangan teknologi digital dan media sosial telah mengubah cara generasi muda Muslim berinteraksi dengan nilai-nilai keagamaan dan kewargaan. Dalam konteks ini, zakat dan pajak tidak hanya dipandang sebagai kewajiban formal, tetapi juga sebagai bagian dari konstruksi sosial yang terbentuk melalui dinamika digital. Penelitian ini bertujuan untuk menggali persepsi dan sikap profesional muda Muslim terhadap kewajiban zakat dan pajak dalam konteks kehidupan digital, khususnya bagaimana media sosial memengaruhi cara pandang dan keputusan mereka. Dengan pendekatan kualitatif dan desain fenomenologis, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap responden berusia 20–35 tahun di tiga wilayah Kalimantan Selatan: Banjarmasin, Banjarbaru, dan Kabupaten Banjar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa zakat dipersepsi sebagai kewajiban spiritual dan moral yang lebih bermakna secara emosional dibandingkan pajak, yang cenderung dipandang sebagai kewajiban administratif negara. Media sosial memainkan peran penting dalam membentuk persepsi, memperkuat preferensi, dan merekonstruksi identitas sosial-keagamaan generasi muda Muslim. Ketegangan antara spiritualitas dan kepatuhan hukum terlihat dalam bagaimana responden memposisikan kedua kewajiban tersebut dalam kehidupan mereka. Penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan komunikatif dan transparan dalam strategi lembaga zakat dan otoritas pajak untuk menjangkau generasi Muslim digital yang reflektif dan aktif secara sosial.
Copyrights © 2025