Artikel ini membahas biografi dan pemikiran Muhammad Shahrur, seorang pemikir Islam kontemporer asal Suriah yang dikenal melalui pendekatan hermeneutika dan rasionalitas dalam menafsirkan Al-Qur’an. Meskipun berlatar belakang pendidikan teknik sipil, Shahrur menunjukkan ketertarikan yang mendalam terhadap kajian keislaman, khususnya dalam bidang linguistik dan filsafat. Pendekatan otodidak serta keterlibatannya dalam studi bahasa dan diskusi filosofis membentuk fondasi pemikirannya, yang terangkum dalam karya utamanya Al-Kitāb wa al-Qur’ān: Qirā’ah Mu‘āṣirah. Dalam karya tersebut, Shahrur mengembangkan teori hermeneutika berbasis linguistik dan memperkenalkan Nazariyyah al-Ḥudūd (Teori Batas) sebagai metode ijtihad kontekstual terhadap ayat-ayat hukum dalam Al-Qur’an. Ia membedakan antara wahyu absolut (Al-Qur’an) dan teks historis (Al-Kitāb), serta memperkenalkan konsep-konsep seperti Umm al-Kitāb, Lauḥ Maḥfūẓ, dan al-Imām al-Mubīn. Pemikirannya menekankan pentingnya relevansi teks keagamaan dengan konteks zaman modern, serta membuka ruang reinterpretasi terhadap hukum Islam yang kaku. Meskipun menuai banyak kritik karena tidak berasal dari institusi keagamaan formal, pemikiran Shahrur memberikan kontribusi signifikan dalam wacana reformasi pemikiran Islam kontemporer.
Copyrights © 2025