Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara kualitatif struktur, narasi, dan dinamika memori kolektif masyarakat dan siswa sekolah di Banyuwangi terhadap peristiwa kritis Sejarah Indonesia, dengan fokus pada peristiwa G30S/PKI. Peristiwa ini sangat relevan di Banyuwangi mengingat sejarah konflik agraria dan politik yang intens. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif interpretatif dengan melibatkan 15 partisipan: 7 anggota masyarakat (Saksi Sejarah Generasi Pertama/Kedua) dan 8 siswa SMA (Generasi Ketiga). Data dikumpulkan melalui wawancara sejarah lisan (oral history), observasi partisipatif terbatas, dan analisis dokumen kurikulum Sejarah. Hasil menunjukkan adanya kesenjangan narasi yang tajam (Narrative Gap): (1) Masyarakat Generasi Pertama didominasi oleh memori yang bermuatan emosi tinggi (affective memory) tentang kekerasan dan trauma; sementara (2) Siswa Generasi Ketiga memiliki memori yang kering dan tekstual, dibentuk oleh narasi tunggal dan homogen dari buku teks. Guru Sejarah cenderung menghindari diskusi kritis mengenai versi non-resmi. Penelitian menyimpulkan bahwa memori kolektif di Banyuwangi masih terfragmentasi, dan narasi sekolah gagal menyediakan keterampilan interpretasi sejarah yang diperlukan untuk memahami kompleksitas peristiwa, sehingga berpotensi melanggengkan trauma atau apatisme sejarah.
Copyrights © 2025