Film telah berevolusi menjadi salah satu medium yang paling efektif untuk menyampaikan pesan, termasuk isu- isu keagamaan. Salah satu karya yang berhasil menarik perhatian dan memicu perdebatan adalah film horor Siksa Neraka (2023), yang secara dramatis dan visual mengkonstruksi nilai eskatologi Islam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana Generasi Z Muslim di Indonesia meresepsi dan memaknai pesan-pesan tersebut. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode analisis resepsi model Stuart Hall, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan delapan informan. Hasil penelitian menunjukkan adanya keragaman pemaknaan yang terbagi menjadi dua posisi utama. Pertama, posisi dominan-hegemonik, di mana audiens menerima film sebagai media dakwah yang efektif dan pengingat spiritual yang kuat, sejalan dengan tujuan pembuat film. Kedua, posisi negosiasi, di mana audiens menerima pesan inti tentang eskatologi, namun mengkritisi pendekatan horor yang dianggap mengurangi kesakralan pesan agama. Variasi pemaknaan ini dipengaruhi secara signifikan oleh latar belakang pendidikan Islam, lingkungan sosial, dan tipologi keagamaan masing-masing individu. Penelitian ini menyimpulkan bahwa film adalah teks yang bersifat polisemi dan audiens Generasi Z bukanlah penerima pasif, melainkan aktor aktif dalam proses komunikasi.
Copyrights © 2026