Penelitian ini bertujuan untuk memahami bentuk dan dinamika modal sosial yang dimiliki oleh warga binaan dalam interaksi mereka dengan petugas pemasyarakatan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Manado. Modal sosial dipandang sebagai aset penting dalam proses pembinaan dan reintegrasi sosial warga binaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi terhadap sepuluh informan yang terdiri atas warga binaan dan petugas Lapas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara warga binaan dan petugas tidak hanya bersifat pengawasan, tetapi juga membentuk arena sosial yang kompleks, di mana kepercayaan, norma, dan jaringan sosial memainkan peran sentral. Modal sosial membantu warga binaan membangun hubungan yang konstruktif, memperoleh akses terhadap program pembinaan, serta mengurangi potensi konflik di dalam Lapas. Meskipun relasi kekuasaan di Lapas bersifat hierarkis dan diwarnai keterbatasan sumber daya, kehadiran modal sosial memungkinkan terciptanya suasana sosial yang lebih harmonis dan mendukung keberhasilan proses pembinaan. Modal sosial juga berfungsi sebagai sarana adaptasi sosial bagi warga binaan dalam menghadapi tekanan lingkungan yang tertutup. Nilai kepercayaan, solidaritas, dan gotong royong yang terbentuk menjadi faktor penting dalam menjaga ketertiban serta memperkuat rasa kebersamaan di antara mereka. Oleh karena itu, peningkatan interaksi yang humanis dan pembinaan berbasis partisipasi aktif warga binaan menjadi langkah strategis untuk memperkuat efektivitas sistem pemasyarakatan serta mendukung proses reintegrasi sosial setelah masa hukuman berakhir.
Copyrights © 2026