Prevalensi remaja dengan umur 13-15 tahun yang mengalami status gizi lebih atau gemuk di Jawa Barat Kota semakin meningkat hingga saat ini. Perkembangan teknologi yang pesat berkontribusi terhadap kenaikan prevalensi gizi lebih. Tanpa disadari teknologi menyebabkan seseorang kurang beraktivitas, sering mengonsumsi fast food. Adapun faktor lainnya adalah pengetahuan gizi, jumlah uang saku dan kebiasaan sarapan. Tujuan: Mengetahui faktor yang berhubungan dengan status gizi lebih pada remaja di SMP Mutiara Bangsa Depok. Metode: Penelitian ini bersifat kuantitatif dan menggunakan desain cross sectional. Populasi pada penelitian ini yaitu seluruh siswa kelas VIII dan IX SMP Mutiara Bangsa Depok. Sampel yang digunakan sebanyak 68 responden dengan teknik pengambilan sampel total sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah timbangan digital, microtoise, kuesioner PAQ-A, pengetahuan gizi, kebiasaan sarapan, jumlah uang saku, dan lembar FFQ untuk mengetahui data fast food. Hasil: Penelitian menunjukan bahwa sebanyak 24 remaja (35,3%) mengalami gizi lebih. Tidak ada hubungan yang signifikan antara konsumsi fast food, aktivitas fisik, pengetahuan gizi, jumlah uang saku dan kebiasaan sarapan dengan status gizi lebih pada remaja di SMP Mutiara Bangsa Depok. Saran: Diharapkan dapat mengurangi frekuensi fast food dengan membawa bekal dari rumah, mengganti makanan fast food dengan buah-buahan dan sayur mayur, meningkatkan kebiasaan sarapan dan aktivitas fisik minimal 2 kali dalam seminggu.
Copyrights © 2025