Ekosistem mangrove Pangkal Babu di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi, memiliki potensi besar dalam pengembangan ekowisata berkelanjutan yang mengintegrasikan konservasi lingkungan, pemberdayaan masyarakat, dan mitigasi perubahan iklim. Meskipun pernah mengalami degradasi akibat alih fungsi lahan menjadi tambak dan perkebunan, rehabilitasi berbasis masyarakat berhasil memulihkan tutupan mangrove dan melahirkan destinasi ekowisata nasional sejak 2019. Pengembangan kawasan ini tidak hanya menjaga jasa ekosistem mangrove seperti perlindungan pesisir, penyediaan sumber pangan, serta penyerapan karbon tetapi juga membuka peluang ekonomi kreatif dan pariwisata. Namun saat ini pengembangan pariwisata masih terbatas, terdapat beberapa kendala diantaranya keterbatasan infrastruktur, kapasitas pengelolaan, dan promosi masih menjadi hambatan utama. Kebijakan strategis diperlukan dengan menekankan pada konservasi dan rehabilitasi kawasan multipihak, penguatan kelembagaan Pokdarwis dan BUMDes serta adanya local hero, pembangunan infrastruktur penunjang atraksi dan aksesibilitas wisata, riset dan edukasi konservasi, serta integrasi skema pendanaan berkelanjutan blue finance dan branding ekowisata blue carbon. Dukungan lintas sektor, ekowisata mangrove Pangkal Babu berpotensi menjadi pusat inovasi wisata hijau dan berkontribusi nyata bagi pembangunan berkelanjutan di tingkat lokal maupun nasional.
Copyrights © 2025