Pulau-pulau kecil seperti Saparua mengalami tekanan ekologis akibat fragmentasi habitat yang disebabkan oleh aktivitas manusia seperti alih fungsi lahan, pemukiman, dan pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan satwa burung dan faktor-faktor yang memengaruhinya berdasarkan kondisi lansekap di Pulau Saparua, Maluku. Penelitian dilakukan menggunakan metode point count (Index Point of Abundance) untuk mengamati keberadaan burung di dua jenis lansekap: terfragmentasi dan utuh. Analisis data menggunakan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener, indeks kekayaan Margalef, indeks kemerataan, serta indeks dominansi Simpson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lanskap utuh memiliki keanekaragaman jenis yang lebih tinggi (H’ = 2,248) dibandingkan lanskap terfragmentasi (H’ = 0,477). Tercatat 21 spesies burung dari 16 famili, dengan 15 jenis ditemukan pada lanskap utuh dan 14 jenis pada lanskap terfragmentasi. Faktor-faktor yang memengaruhi kelimpahan satwa burung meliputi kondisi ekologis (kompleksitas vegetasi), faktor antropogenik (gangguan manusia), dan cuaca. Burung-burung generalis cenderung mampu beradaptasi di lanskap terfragmentasi, sedangkan burung spesialis lebih banyak ditemukan di lanskap utuh. Penelitian ini menegaskan pentingnya menjaga keutuhan habitat dan menyusun strategi konservasi lansekap untuk mendukung kelangsungan hidup keanekaragaman burung di pulau-pulau kecil.
Copyrights © 2025