Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap pola komunikasi interpersonal dalam fenomena love bombing di kalangan Generasi Z di Denpasar serta menelusuri dinamika emosional dan bentuk manipulasi yang menyertainya. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pelaku love bombing cenderung mempercepat proses pengungkapan diri (self-disclosure) dan menampilkan afeksi secara berlebihan, intens, dan terus-menerus. Pola komunikasi yang dibangun pada tahap awal hubungan ini sengaja dirancang untuk menciptakan kesan kedekatan emosional yang cepat, meskipun sifatnya semu dan tidak mencerminkan keterikatan yang sehat. Intensitas perhatian, pujian, dan janji-janji masa depan yang diberikan pelaku menjadi alat untuk membangun ketergantungan emosional pada diri korban. Setelah kedekatan semu tersebut terbentuk, pola komunikasi berubah menjadi bentuk kontrol halus maupun eksplisit. Pelaku mulai membatasi ruang pribadi korban, mengatur perilaku, serta memunculkan tekanan emosional melalui penarikan afeksi tiba-tiba atau sikap tidak konsisten. Perubahan dinamika ini menimbulkan kebingungan dan ketidakstabilan emosional bagi korban. Para informan dalam penelitian ini mengungkapkan bahwa mereka sering meragukan keaslian perhatian yang diterima, merasa terjebak dalam dinamika hubungan yang tidak seimbang, dan mengalami kesulitan membedakan antara cinta yang tulus dan manipulasi. Dengan demikian, fenomena love bombing tidak hanya mempercepat tahapan hubungan secara tidak wajar, tetapi juga mendistorsi fondasi komunikasi interpersonal yang seharusnya berkembang secara alami, jujur, dan saling menghormati. Penelitian ini menegaskan bahwa love bombing merupakan strategi komunikasi manipulatif yang berdampak signifikan terhadap kesehatan emosional dan persepsi diri korban.
Copyrights © 2026