Konsumsi junk food semakin umum di kalangan remaja, terutama di daerah perkotaan seperti Kota Malang, dan dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan seperti obesitas, penyakit jantung, diabetes, dan gangguan mental seperti depresi. Stres yang berasal dari tekanan akademis, sosial, atau keluarga, merupakan pemicu yang signifikan untuk konsumsi junk food yang berlebihan sebagai mekanisme penanggulangan. Faktor-faktor seperti pengaruh sosial, ekonomi, psikologis, dan tingkat pengetahuan gizi juga berperan dalam membentuk kebiasaan makan remaja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi hubungan antara tingkat stres dengan perilaku konsumsi junk food pada remaja di Kota Malang. Dengan menggunakan desain cross-sectional, remaja berusia 13-19 tahun disurvei menggunakan kuesioner terstruktur, termasuk informasi demografi, tingkat stres (diukur dengan Perceived Stress Scale), dan perilaku konsumsi junk food . Analisis menunjukkan hubungan yang signifikan antara tingkat stres yang tinggi dan peningkatan konsumsi junk food (p<0,05), dengan pengaruh sosial, seperti tekanan dari teman sebaya, dan faktor ekonomi, seperti pendapatan keluarga, yang berkontribusi terhadap perilaku ini. Selain itu, pengetahuan gizi yang lebih rendah membuat keinginan remaja untuk beralih ke junk food saat stres. Studi ini menyimpulkan bahwa stres berdampak signifikan pada konsumsi junk food , termasuk perlunya intervensi pendidikan untuk meningkatkan kesadaran tentang pola makan sehat dan manajemen stres. Program berbasis keluarga dan sekolah, terutama yang melibatkan dukungan teman sebaya, sangat penting dalam menumbuhkan kebiasaan makan yang lebih sehat dan mencegah konsekuensi kesehatan jangka panjang dari konsumsi junk food .
Copyrights © 2025