Pendahuluan: Penyakit arteri perifer (PAP) merupakan manifestasi penyakit kardiovaskular yang sering ditemukan di negara berkembang, termasuk Indonesia. Prevalensi PAP dilaporkan mencapai 8–28% dan berkontribusi besar terhadap kecacatan. Laporan kasus ini menggambarkan keberhasilan percutaneous transluminal angioplasty (PTA) pada pasien PAP yang tidak membaik dengan terapi farmakologis. Laporan Kasus: Seorang wanita 66 tahun datang dengan PAP grade Rutherford 3–4 pada tungkai bawah kanan. Pasien memiliki riwayat PAP pada tungkai kiri dan pernah menjalani PTA. Ia mengeluhkan klaudikasio berat dengan jarak tempuh <30 meter dan nyeri yang kadang tidak hilang saat istirahat. Terapi cilostazol tidak memberikan perbaikan bermakna. Pemeriksaan fisik menunjukkan pulsasi arteri dorsalis pedis kanan melemah, ekstremitas kanan lebih dingin, dan saturasi oksigen jari kaki 92–94%, tanpa lesi kulit. CTA mengungkap oklusi arteri tibialis anterior dan posterior hingga arteri plantaris dan dorsalis pedis kanan. PTA dilakukan dengan hasil baik dan perbaikan gejala pada kontrol berikutnya. Kesimpulan: Percutaneous transluminal angioplasty dapat menjadi pilihan terapi efektif bagi pasien PAP Rutherford 3–4 yang tidak menunjukkan respons adekuat terhadap terapi medikamentosa.
Copyrights © 2025