Pendidikan karakter menjadi aspek fundamental dalam sistem pendidikan nasional karena peserta didik saat ini menghadapi tantangan besar berupa penurunan nilai-nilai sosial akibat pengaruh kemajuan teknologi sehingga mengakibatkan perubahan perilaku peserta didik yang cenderung menjadi lebih individualis dan kurang peduli terhadap lingkungan sekitar. Hal ini menunjukkan bahwa karakter gotong royong belum tertanam secara optimal. Padahal, gotong royong merupakan nilai luhur bangsa Indonesia yang mencerminkan sikap saling membantu, kolaborasi, dan empati. Oleh karena itu, penanaman pendidikan karakter khususnya karakter gotong royong sangat penting dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan melalui peran guru, terutama dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap strategi guru IPS dalam menanamkan karakter gotong royong pada peserta didik kelas VII serta menganalisis faktor pendukung dan penghambatnya. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 4 Sidoarjo dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan model Miles dan Huberman dengan tahapan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Sumber data dari penelitian ini diperoleh dari waka kurikulum dan guru mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dengan penentuan informan menggunakan teknik purposive. Penelitian ini menggunakan teori pendidikan karakter oleh Thomas Lickona dan teori behavioristik oleh B.F Skinner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi guru IPS dilakukan melalui tiga tahapan utama, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Pada tahap perencanaan, guru IPS mengintegrasikan nilai gotong royong dalam modul ajar melalui elemen kolaborasi, berbagi, dan kepedulian. Pada tahap pelaksanaannya, guru IPS menerapkan pembelajaran kolaboratif yang memberikan kesempatan peserta didik untuk bekerja sama dalam kelompok secara aktif, serta menyelesaikan tugas pembelajaran secara bersama-sama. Pada tahap evaluasi dilakukan secara formatif dengan mengamati sikap dan keterlibatan peserta didik selama proses pembelajaran. Keberhasilan strategi ini didukung oleh kebijakan sekolah melalui komunitas "Krida", ketersediaan sarana pembelajaran yang memadai, serta partisipasi aktif peserta didik. Strategi ini terbukti efektif menumbuhkan sikap kerja sama, empati, dan tanggung jawab sosial peserta didik, meskipun menghadapi beberapa hambatan seperti perbedaan karakter peserta didik, keterbatasan waktu, dan kecenderungan sikap individualistik yang masih dijumpai pada sebagian peserta didik.
Copyrights © 2025