Dilatasi merupakan celah yang memisahkan bagian bangunan dengan sistem struktur berbeda, umumnya digunakan pada bangunan dengan bentuk denah seperti T, L, atau U. Gedung SMPN 23 Kota Bogor memiliki bentuk bangunan asimetris dengan denah berbentuk L. Struktur bangunan terdiri dari susunan elemen konstruksi yang dirancang untuk menahan beban vertikal, seperti beban mati dan beban hidup, serta beban horizontal, seperti beban angin dan gempa. Kota Bogor sendiri dalam lima tahun terakhir telah mengalami 64 kejadian gempa, dengan gempa terbesar pada tahun 2023 berkekuatan magnitudo 5,4. Dalam penelitian ini, pemodelan struktur dilakukan dengan tiga variasi jarak dilatasi. Variasi pertama menggunakan jarak sesuai kondisi eksisting bangunan, variasi kedua menerapkan jarak yang lebih besar, dan variasi ketiga menggunakan jarak yang lebih kecil. Bangunan eksisting memiliki jarak dilatasi antar bangunan sebesar 50 mm. Pemodelan dilakukan menggunakan perangkat lunak SAP2000, dengan evaluasi struktur terhadap beban gempa melalui analisis simpangan antar lantai, torsi bawaan, dan P-Delta. Penentuan beban mengacu pada fungsi ruang masing-masing area. Analisis gempa dilakukan menggunakan metode statik ekivalen untuk menentukan variasi jarak dilatasi yang paling aman. Hasil analisis menunjukkan jarak minimum dilatasi yang dibutuhkan adalah 160 mm pada lantai 3, 100 mm pada lantai 2, dan 40 mm pada lantai 1. Berdasarkan temuan ini, jarak eksisting sebesar 50 mm hanya memenuhi ketentuan pada lantai 1.
Copyrights © 2025