Nyeri lutut merupakan keluhan muskuloskeletal utama pada wanita menopause yang berdampak pada kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan usia menopause dan indeks massa tubuh (IMT) dengan derajat nyeri lutut. Studi observasional analitik potong lintang dilakukan di Rumah Sakit Universitas Airlangga pada Agustus–September 2025 terhadap 146 wanita menopause (usia 45–60 tahun) yang tercatat dalam rekam medis periode 2019–2025. Data dikumpulkan melalui kuesioner Visual Analog Scale (VAS) dan rekam medis. Analisis menggunakan regresi logistik berganda. Hasil menunjukkan bahwa 43,5% responden mengalami nyeri lutut sedang hingga berat (VAS ≥4). Usia menopause ≥55 tahun meningkatkan risiko nyeri sedang–berat sebesar 2,82 kali (OR = 2,82; 95% CI: 1,34–5,92; p = 0,006), sedangkan obesitas (IMT ≥25,0 kg/m²) meningkatkan risiko 2,41 kali (OR = 2,41; 95% CI: 1,08–5,37; p = 0,031). Kedua faktor ini bersifat independen setelah dikontrol terhadap aktivitas fisik dan lama menopause. Disimpulkan bahwa nyeri lutut pada wanita menopause dipengaruhi secara signifikan oleh durasi defisiensi estrogen (diwakili usia menopause lanjut) dan beban mekanis-inflamasi akibat obesitas. Intervensi promotif-preventif berbasis pengendalian berat badan dan edukasi kesehatan sendi perlu diintegrasikan ke dalam layanan kesehatan menopause.
Copyrights © 2026