This study aims to explore the problematics and self-adaptation of moslem women who wear jilbab and veil, who were married by a kiai with the hope to get happiness on earth, as well as after death. Subjects (N = 3) were women wearing jilbab and veil, aged between 25-35, and have been married for 1-10 years. Data were collected through interviews and guided self-report. Results reveal a different problem and adaptation towards marriage compared to other moslem women in general. Besides, the influence of patriarchical culture on gender perspectives is also shown. Religious values and women’s stereotypical views upon gender role in a marriage in a patriarchical cultuere are discussed. Penelitian ini bertujuan mengungkap permasalahan dan penyesuaian diri muslimat berjilbab dan bercadar, yang menikah akibat dijodohkan oleh kiai yang dipercayainya, dengan harapan memperoleh kabahagiaan di dunia maupun di akherat.(N =3) adalah muslimat berjilbab dan bercadar, berusia antara 25-35 tahun dan telah menikah selama 1 – 10 tahun. Data diperoleh melalui wawancara dan penulisan ceritaberdasar pedoman peneliti. Hasil menunjukkan permasalahan dan penyesuaian diri terhadap pernikahan yang berbeda dari wanita muslimat pada umumnya. Di samping itu terungkap pula adanya pengaruh budaya patriarkat terhadap perspektif gender. Dibahas lebih lanjut nilai agama dan pandangan stereotipikal wanita atas peran gender dalam perjodohan dalam budaya patriarkat.
Copyrights © 2008