Representasi pesantren dalam media massa menjadi isu yang semakin penting dikaji karena media memiliki kekuatan dalam membentuk persepsi publik dan memproduksi realitas sosial. Kontroversi tayangan Xpose Trans7 yang menampilkan pesantren dengan pendekatan investigatif memicu perdebatan publik dan kritik luas karena dinilai mendistorsi nilai budaya pesantren dan menghasilkan stigma negatif terhadap institusi pendidikan Islam. Penelitian ini bertujuan menganalisis makna tanda visual dan verbal dalam tayangan tersebut menggunakan pendekatan semiotika Charles Sanders Peirce yang mencakup hubungan antara representamen, objek, dan interpretan melalui kategori ikon, indeks, dan simbol. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik dokumentasi dan analisis mendalam terhadap adegan—serta diperkuat dengan telaah terhadap respons publik pada media sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tayangan Xpose memproduksi makna yang bias melalui pemilihan visual, sudut pengambilan gambar, dan narasi yang mengeksploitasi aspek sensasional, sehingga membentuk pemaknaan konotatif yang berbeda dari realitas budaya pesantren. Selain itu ditemukan adanya pertarungan makna antara framing media dan interpretasi publik yang menolak representasi tersebut sebagai bentuk delegitimasi pesantren. Penelitian ini berkontribusi dalam memperkuat literasi media kritis dan menunjukkan perlunya etika jurnalisme yang sensitif terhadap simbol budaya dan institusi keagamaan.
Copyrights © 2025