Krisis ekologi di Papua tidak dapat di lepaskan dari persoalan struktural yang berakar pada patriarki, kapitalisme dan dominasi maskulinitas dalam pengambilan keputusan terhadap sumber daya alam. Penelitian ini menggunakan pendekatan ekofeminis untuk mengkaji bagaimana toxic maskulinitas berkontribusi terhadap eksploitasi hutan adat dan ekslusi perempuan adat dalam ruang-ruang ekologis dan politik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomonologi, data dikumpulkan melalui wawancara semi struktur dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa struktur patriarkial tidak hanya memerginalkan perempuan dalam sistem adat, akan tetapi berperan aktif dalam kerusakan lingkungan melalui legitimasi ekonomi dan politik negara. Perempuan adat mengalami dampak ganda baik secara ekologis maupun sosial, sehingga mereka menjadi kelompok yang paling rentan dalam krisis ekologi. Maka ekofemnisme hadir sebagai pendekatan kritis untuk membongkar logika dominasi dan menawarkan relasi yang lebih adil manusia dengan alam dan laki-laki dengan perempuan.
Copyrights © 2025