Rumah tradisional Grojogan di Desa Sendangagung, Lamongan, merupakan contoh arsitektur vernakular yang mencerminkan keterkaitan ruang huni, budaya lokal, dan aktivitas domestik. Namun, belum ada kajian yang secara khusus membahas ruang besali, yakni ruang kerja pengrajin emas yang kini banyak ditemukan dalam rumah-rumah Grojogan. Fenomena ini menarik karena besali umumnya menempati dapur (pawon), ruang yang secara tradisional diperuntukkan bagi aktivitas memasak dan hanya digunakan oleh perempuan. Penelitian ini bertujuan mengkaji bagaimana rumah tradisional Grojogan yang awalnya tidak memiliki besali akhirnya mengalami perubahan konfigurasi ruang seiring perkembangan kebutuhan ekonomi keluarga. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif melalui observasi lapangan, wawancara, dan studi kasus. Lokasi penelitian berada di Desa Sendangagung, Paciran, Lamongan, Jawa Timur. Teknik analisis dilakukan melalui pemetaan konfigurasi ruang (spatial mapping), interpretasi pola sirkulasi, dan analisis tematik terhadap data wawancara untuk mengidentifikasi makna sosial dan perubahan fungsi ruang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemunculan besali dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti peran historis Sunan Sendang yang memperkenalkan kerajinan logam, serta tuntutan ekonomi yang menjadikan pawon sebagai ruang produktif. Besali merupakan artikulasi fungsi ekonomi dalam ruang vernakular dan mencerminkan perubahan nilai sosial terkait zonasi privat dan profan. Penelitian ini menawarkan pembahasan baru mengenai fungsi ekonomi domestik dalam arsitektur tradisional, khususnya melalui kajian tentang besali.
Copyrights © 2025