Penelitian ini menganalisis ketimpangan penerimaan terhadap kelompok lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) di wilayah perkotaan dan pedesaan Indonesia melalui studi literatur sosial-budaya. Isu penerimaan LGBT di Indonesia masih bersifat sensitif dan kompleks karena dipengaruhi oleh norma sosial, agama, serta struktur budaya lokal yang berbeda antara wilayah urban dan rural. Dengan menggunakan teori stigma sosial Goffman (1963) sebagai kerangka analisis utama, penelitian ini mensintesis 50 literatur akademik dan laporan internasional dari periode 2020–2025 yang membahas persepsi sosial, pendidikan, media, dan kebijakan terhadap LGBT. Hasil analisis menunjukkan bahwa penerimaan terhadap LGBT di wilayah urban cenderung lebih tinggi dibandingkan pedesaan, didorong oleh tingkat pendidikan, akses media digital, dan paparan terhadap wacana global. Sebaliknya, di wilayah pedesaan, nilai-nilai religius dan tradisi lokal masih menjadi faktor utama penolakan. Selain itu, temuan memperlihatkan bahwa generasi muda menunjukkan tingkat inklusivitas yang meningkat, sementara representasi media mulai bergeser dari narasi negatif menuju wacana netral dan hak asasi manusia. Meskipun terdapat kemajuan dalam kesadaran sosial, kebijakan publik di Indonesia masih menunjukkan ambivalensi terhadap isu LGBT. Studi ini menegaskan perlunya pendekatan kebijakan yang berbasis literasi sosial dan budaya untuk membangun masyarakat yang lebih inklusif dan adil secara sosial.
Copyrights © 2025