Al-qur’an adalah sumber ajaran dan petunjuk untuk mengatur segala aspek kehidupan manusia. Al-Qur’an berisi hal-hal yang bersifat global. Karena itulah, dibutuhkan suatu penafsiran. Tafsir adalah suatu aktifitas penjelasan ayat-ayat al-Qur’an sesuai kehendak Allah SWT. menurut kadar kemampuan manusia.Oleh karena itu, usaha penafsiran muncul dengan berbagai metode, mulai dari tahlili, ijmÄli, muqÄran, mauá¸Å«â€™i sampaihermeneutika.Kitab tafsir karya al-Sulami ini mempunyai spesifikasi dibanding yang lain. Keunikan tafsir al-Sulami ini terletak, pada semua ayat-ayat yang dipahami melalui isyarat-isyarat. Hal inilah yang mendorong peneliti untuk menelaah kitab tafsir tersebut. Artikel inimngemukakan dua metode penafsiran al-Sulamiyaitu: metode “al-IstidlÄl bi al-SyÄhid ala al-GÄ’ib†dan metode menangkap pesan utama (magza) dari suatu ayat. Metode al-IstidlÄl bi al-SyÄhid ‘ala al-GÄ’ib adalah pengiasan sesuatu yang bersifat kongkrit dengan yang abstrak atau membawa makna dhahir ke makna batin. Sedang yang dimaksud menangkap pesan utama suatu ayat adalah pemaknaan ayat yang tidak secara tekstual akan tetapi dipahami dari kandungan ayat. Untuk mencapai kompetensi al-IstidlÄl bi al-SyÄhid ‘ala al-GÄ’ib dan kompetensi menangkap pesan utama ayat harus ada upaya penjernihan batin, menjahui kesombongan, meninggalkan kebiasaan berdosa, penghayatan dan konsentrasi ketika membaca al-Qur’an, yaitu dengan melalui tadabbur, taŹakkur, tafakkur, tayaqquẕdan huá¸Å«r al-Qalb.Ketika menafsirkan ayat al-Qur’an, al-Sulami lebih banyak merujuk pada pendapat ahli tasawuf yang terkenal seperti: Ibnu Atha’, Ahmad Sahal al-Tustari, Ja’far al-Shadiq dan Junaid al-Baghdadi. Gagasan asli dari al-Sulami sangat minim. Pendapat tokoh-tokoh sufi ini mempengaruhi al-Sulami dalam hal penyelarasan antara syari’at dan hakikat. Ayat-ayat al-Qur’an yang ditafsirkan secara isyÄri mencakup pada berbagai bidang: keimanan, hukum, akhlak, kishah, sosial, dan ayat-ayatkauniyah atau ayat kealaman.
Copyrights © 2016