This article examines Khaled Abou El Faḍl’s thought regarding the qualifications of a Qur’anic interpreter (mufassir). The study aims to understand Abou El Faḍl’s perspective that rejects authoritarian attitudes in interpreting the Qur’an. Using a qualitative method and descriptive-critical analysis through a literature review of his ideas presented in Speaking in God’s Name, the study shows that Abou El-Faḍl opposes all forms of authoritarianism in Qur’anic interpretation. However, he also does not accept completely free or unrestricted interpretations. According to him, certain requirements must be fulfilled by anyone who wants to interpret and understand the meaning of the Qur’an responsibly. This research contributes to the development of Qur’anic and tafsir studies, especially in discussions about interpretive authority and the ethics of the mufassir. Artikel ini mengkaji pemikiran Khaled Abou El-Faḍl terkait syarat-syarat bagi seorang mufasir al-Qur’an. Penelitian ini bertujuan untuk memahami cara pandang Khaled Abou El-Faḍl yang menolak praktik otoritarianisme dalam penafsiran al-Qur’an. Dengan menggunakan metode kualitatif dan analisis deskriptif-kritis melalui kajian literatur (literature review) terhadap pemikirannya yang tertuang dalam karya Speaking in God’s Name, penelitian ini menunjukkan bahwa Khaled Abou El-Faḍl menolak segala bentuk otoritarianisme dalam proses penafsiran al-Qur’an. Meskipun demikian, ia juga tidak menerima penafsiran yang bersifat bebas tanpa batas. Menurutnya, diperlukan syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi oleh seseorang agar dapat menafsirkan dan memahami kandungan al-Qur’an secara bertanggung jawab. Temuan penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan studi al-Qur’an dan tafsir, khususnya dalam kajian tentang otoritas penafsiran dan etika mufasir.
Copyrights © 2025