Pembalut merupakan kebutuhan primer bagi perempuan yang digunakan sebagai alat sanitasi saat menstruasi. Pembalut konvensional atau pembalut sekali pakai dinilai lebih terjangkau dan mudah ditemukan, sehingga mayoritas perempuan memilih untuk menggunakannya sebagai alat sanitasi. Akan tetapi, penggunaan pembalut sekali pakai dapat menimbulkan gangguan pada kesehatan reproduksi perempuan. Selain itu, penumpukan limbah pembalut sekali pakai juga berbahaya bagi kelestarian lingkungan. Fokus penelitian dengan topik “Program Edukasi Penggunaan Pembalut Kain untuk Mengurangi Limbah Pembalut Konvensional” ini menitikberatkan kajian pembahasan pada peran komunitas lokal dalam memberikan edukasi kepada masyarakat, khususnya perempuan Indonesia dalam penanganan limbah pembalut sekali pakai. Tujuan dari penelitian adalah menganalisis gerakan program edukasi penggunaan pembalut kain yang dilakukan oleh Komunitas Biyung dalam mengurangi limbah pembalut konvensional atau pembalut sekali pakai. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data menggunakan data sekunder. Adapun kajian teori yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Aksi Sosial dari Talcott Parsons dan Konsep Ekofeminisme dari Vandana Shiva. Sementara itu, data jumlah limbah pembalut yang digunakan oleh perempuan kategori subur di Indonesia bisa mencapai 1,4 miliar per bulan dengan intensitas penggantian pembalut sebanyak 4-5 kali dalam sehari (Oktavianti & Anjani, 2022). Pembalut yang sudah tidak terpakai dan teronggok di tumpukan sampah dapat menimbulkan permasalahan bagi lingkungan, kesehatan, dan estetika. Oleh sebab itu, Komunitas Biyung di Yogyakarta menciptakan gerakan untuk mengurangi limbah pembalut konvensional dengan menggunakan dan memproduksi pembalut kain yang lebih ramah lingkungan sebagai pengganti pembalut sekali pakai.
Copyrights © 2025