Pantun merupakan unsur penting dalam prosesi Pangakkasan masyarakat Makki yang berfungsi sebagai media komunikasi simbolik untuk menyampaikan penghormatan, legitimasi hubungan, dan nilai budaya dalam upacara adat. Namun, perubahan sosial dan modernisasi menyebabkan melemahnya pemahaman generasi muda terhadap bahasa pantun, terutama terhadap kosakata lama dan metafora yang berasal dari bahasa tomatua. Penelitian ini bertujuan menganalisis dinamika penggunaan pantun sebagai identitas budaya masyarakat Kallan Baru melalui pendekatan sosiolinguistik, khususnya konsep language maintenance dan language shift. Menggunakan metode kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui observasi prosesi adat, wawancara mendalam dengan tetua adat, orang tua, dan generasi muda, serta dokumentasi arsip pantun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pantun masih dipertahankan sebagai elemen normatif dalam Pangakkasan dan dipandang menentukan kesahihan ritual. Meskipun demikian, terjadi penurunan kompetensi linguistik pada generasi muda akibat terbatasnya domain penggunaan, perubahan gaya hidup, dan minimnya pewarisan budaya dalam keluarga. Strategi adaptasi berupa penyederhanaan diksi dan pencampuran bahasa muncul sebagai upaya menjaga relevansi pantun, namun berpotensi mengurangi kekayaan makna tradisionalnya. Faktor usia, gender, etnis keluarga, dan kondisi ekonomi turut memengaruhi tingkat pemahaman dan keterlibatan generasi muda. Penelitian ini menegaskan bahwa keberlanjutan pantun memerlukan pelestarian ritual yang diimbangi dengan penguatan kompetensi linguistik melalui pendidikan budaya dan pewarisan intergenerasional.
Copyrights © 2025