Fenomena teo-populisme digital semakin menonjol dalam ruang keagamaan Indonesia, terutama melalui konten hijrah dan kisah pertobatan di platform seperti TikTok dan YouTube. Agama kerap direduksi menjadi slogan atau hashtag, sementara spiritualitas bergeser ke arah performativitas yang emosional dan populistik. Studi-studi terdahulu lebih banyak menyoroti dakwah digital dari perspektif komunikasi dan sosiologi, namun jarang yang mengaitkannya dengan kritik filsafat dan studi Qur’an. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis wacana kritis, berlandaskan kerangka al-Tsābit wa al-Mutahawwil dari Adonis, serta pendekatan tafsir maudhu’i untuk melihat relevansi ayat-ayat Al-Qur’an dengan fenomena digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konten keagamaan digital merepresentasikan dominasi al-Tsābit—nalar yang kaku, literal, dan dangkal—serta berkontribusi pada krisis spiritualitas. Kebaruan penelitian ini terletak pada tawaran integrasi kritik nalar Adonis dengan studi Qur’an untuk membangun alternatif nalar keagamaan digital yang lebih kreatif, reflektif, dan terbuka.
Copyrights © 2025