Meningkatnya kebutuhan akan sistem konversi energi yang berkelanjutan telah mendorong penelitian intensif terhadap membran penukar proton berbasis biopolimer sebagai alternatif potensial membran perfluorosulfonic acid (PFSA) komersial untuk aplikasi Direct Methanol Fuel Cell (DMFC). Studi ini mensintesis temuan dari lima belas publikasi terbaru yang mengkaji membran berbasis chitosan, selulosa, dan nanocellulose yang dimodifikasi melalui proses sulfonasi, crosslinking, penambahan nanofiller, serta pembentukan hibrida polielektrolit. Secara umum, membran biopolimer termodifikasi menunjukkan peningkatan konduktivitas proton dalam kisaran 10⁻³–10⁻² S/cm serta penurunan permeabilitas metanol hingga satu hingga dua orde lebih rendah dibandingkan Nafion, yang terutama disebabkan oleh terbentuknya jalur difusi berliku dan domain ionik yang lebih terorganisasi. Sejumlah studi juga melaporkan nilai open circuit voltage (OCV) yang lebih tinggi daripada membran PFSA akibat berkurangnya penetrasi metanol, meskipun densitas daya maksimum masih lebih rendah karena hambatan transport proton dan keterbatasan stabilitas jangka panjang. Evaluasi durabilitas menunjukkan bahwa membran yang diperkuat nanofiller atau difungsionalisasi secara kimia memiliki ketahanan oksidatif dan termal yang lebih baik, tetapi tetap mengalami degradasi performa setelah siklus hidrasi–dehidrasi berulang. Secara keseluruhan, bukti kolektif ini menegaskan bahwa meskipun tantangan masih ada, membran berbasis biopolimer menunjukkan prospek kuat sebagai kandidat generasi baru yang lebih ekonomis, ramah lingkungan, dan kompetitif untuk aplikasi DMFC
Copyrights © 2025