Penelitian ini membahas transformasi kebijakan akuntansi persediaan dari PSAK No. 14, yang berbasis biaya perolehan, menuju PSAK No. 202 tentang Akuntansi Produk Agrikultur yang menggunakan pendekatan nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual (FVLCS). Perubahan ini dianalisis melalui metode Systematic Literature Review (SLR) terhadap 10 literatur primer periode 2021–2025 yang diperoleh dari Google Scholar, ResearchGate, dan situs resmi IAI. Studi ini mengkaji proses transisi standar yang diadaptasi dari IAS 41 untuk meningkatkan relevansi dan kualitas pelaporan keuangan sektor agrikultur di Indonesia. Hasil sintesis menunjukkan bahwa penerapan PSAK 202 mampu meningkatkan relevansi nilai persediaan karena nilai yang disajikan lebih mencerminkan kondisi pasar terkini. Namun demikian, penggunaan nilai wajar menimbulkan volatilitas laba, terutama ketika estimasi didasarkan pada input Level 3 dalam Hierarki Nilai Wajar yang mengandung subjektivitas tinggi. Selain itu, terdapat tantangan implementasi seperti kesenjangan kompetensi SDM, keterbatasan data pasar, serta meningkatnya kebutuhan pengungkapan yang lebih detail dan transparan. Di sisi lain, PSAK 202 memberikan dampak positif berupa peningkatan transparansi dan akuntabilitas perusahaan melalui penguatan tata kelola perusahaan (GCG). Meski demikian, trade-off antara relevansi dan reliabilitas tetap menjadi isu utama dalam penerapannya. Penelitian ini menyimpulkan perlunya program pelatihan SDM, standardisasi data pasar oleh regulator seperti IAI dan OJK, serta penelitian empiris lanjutan untuk mengukur dampak agregat terhadap kinerja perusahaan. Temuan ini berkontribusi pada penguatan harmonisasi standar akuntansi Indonesia dengan praktik internasional.
Copyrights © 2026