Krisis air bersih yang berkepanjangan di Pulau Maringkik, Lombok Timur, menunjukkan bahwa solusi teknis semata tidak cukup untuk mengatasi persoalan mendasar tanpa disertai pendekatan komunikasi yang partisipatif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hambatan, pola komunikasi, serta keterlibatan masyarakat dalam mitigasi krisis air melalui pendekatan komunikasi partisipatif berdasarkan teori Paulo Freire. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap berbagai pihak seperti masyarakat, pemerintah desa, BPBD, dan PDAM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi mitigasi di Pulau Maringkik masih bersifat satu arah, administratif, dan tidak berkelanjutan. Tidak ada penyuluhan, pelatihan, atau forum diskusi yang melibatkan masyarakat secara aktif. Hambatan utama meliputi lemahnya koordinasi antar lembaga, minimnya penggunaan media komunikasi, keterbatasan anggaran, dan tidak adanya fasilitator lokal. Ketiadaan komunikasi yang dialogis dan setara menyebabkan masyarakat tetap diposisikan sebagai objek kebijakan, bukan sebagai subjek yang turut menyusun solusi. Penelitian ini menegaskan pentingnya penerapan komunikasi mitigasi partisipatif sebagai syarat untuk mendorong kesadaran kritis, pemberdayaan masyarakat, dan perubahan sosial yang berkelanjutan. Kata Kunci: Komunikasi Mitigasi, Partisipasi, Krisis Air, Perubahan Sosial, Pulau Maringkik, Paulo Freire
Copyrights © 2025