Kota Bandung memiliki populasi Muslim yang besar serta perkembangan lembaga pendidikan Islam yang pesat. Namun, hasil survei menunjukkan bahwa sekitar 49,1% siswa SMA di kota ini mengalami stres akibat tekanan akademik dan sosial. Kondisi tersebut mengindikasikan adanya kebutuhan akan lingkungan belajar yang tidak hanya memenuhi fungsi fisik, tetapi juga mendukung kesejahteraan psikologis dan spiritual siswa. Sejauh ini, sebagian besar penelitian mengenai stres siswa lebih banyak berfokus pada pendekatan psikologis dan manajemen pendidikan, sementara kajian yang menelaah peran desain ruang dalam mendukung kesehatan mental, khususnya melalui pendekatan Arsitektur Islam, masih terbatas. Hal ini menjadi celah akademik yang perlu diteliti lebih lanjut. Pendekatan Arsitektur Islam menawarkan perspektif holistik yang mengintegrasikan nilai-nilai spiritual, keseimbangan lingkungan, dan pengalaman ruang manusia. Prinsip-prinsip seperti tawhid (kesatuan), tawazun (keseimbangan), dan sakinah (ketenangan) memberikan dasar konseptual bahwa ruang dapat berfungsi sebagai media dzikrullah, yaitu pengingat akan kehadiran Tuhan, yang berpotensi menenangkan dan menumbuhkan kesadaran batin. Dalam konteks pendidikan Islam seperti SMA PGII 1 Bandung, yang berlandaskan nilai-nilai keislaman, penerapan prinsip ini menjadi relevan untuk menciptakan ruang belajar yang tidak hanya estetis tetapi juga mendukung ketenangan mental dan spiritual siswa. Dengan demikian, penelitian ini penting dilakukan untuk menjembatani kajian antara desain ruang interior berbasis Arsitektur Islam dan kesehatan mental siswa, serta merumuskan bagaimana nilai-nilai spiritual Islam dapat diterjemahkan ke dalam elemen-elemen desain interior, seperti warna, pencahayaan, dan material yang berkontribusi pada keseimbangan emosional di lingkungan belajar. Kata Kunci : Desain Interior, Arsitektur Islam, Kesehatan Mental, Sekolah Islam
Copyrights © 2025