Praktik anestesiologi dan terapi intensif mengalami pergeseran paradigma dari penggunaan terapi tunggal menuju strategi multimodal yang terstruktur dan saling melengkapi. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa multimodal analgesia pada pembedahan mayor meningkatkan kontrol nyeri, menurunkan konsumsi opioid, serta mempercepat pemulihan pascaoperasi. Temuan ini menegaskan bahwa pendekatan multimodal merupakan elemen utama dalam manajemen perioperatif modern yang berfokus pada luaran klinis yang lebih baik. Pendekatan ini sejalan dengan konsep personalized anesthesia, di mana pilihan obat, teknik anestesi, dan strategi analgesia disesuaikan dengan karakteristik, komorbiditas, serta risiko individual pasien. Pada populasi berisiko tinggi, personalisasi multimodal menjadi faktor kritis dalam menjaga stabilitas perioperatif. Pemahaman baru mengenai respons stres perioperatif semakin menguatkan urgensi pendekatan multimodal. Peningkatan sitokin proinflamasi dan biomarker stres telah dikaitkan dengan komplikasi neurologis pascaoperasi, sehingga mengatur respons biologis berlebihan menjadi bagian penting dari keberhasilan terapi. Agen farmakologis seperti dexmedetomidine, dengan efek sedasi, analgesia, dan stabilitas hemodinamik, memberikan nilai tambah melalui penurunan kebutuhan opioid dan anestetik volatil, serta peningkatan kualitas pemulihan. Teknik anestesi regional berbasis ultrasonografi juga berperan sentral dalam multimodal perioperatif karena meningkatkan presisi tindakan, mengurangi risiko komplikasi, dan memberikan analgesia superior. Meskipun terdapat kekhawatiran mengenai kompleksitas protokol dan ketersediaan sumber daya, bukti menunjukkan bahwa strategi multimodal dan personalisasi terapi memberikan hasil klinis yang lebih baik serta efisiensi sistem yang lebih tinggi. Dengan komitmen terhadap praktik berbasis bukti dan pelayanan yang berpusat pada pasien, integrasi multimodal akan menjadi fondasi penting bagi peningkatan mutu dan keselamatan dalam anestesiologi dan terapi intensif.
Copyrights © 2025