Industri manufaktur beton siap pakai memiliki ciri persaingan harga yang ketat dan susunan biaya padat modal, dengan porsi biaya tetap yang besar. Penelitian ini mengkaji akuntansi biaya di PT Citra Karya Beton yang diduga mengabaikan pembagian biaya overhead pabrik tetap dalam perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP). Hal ini dapat menimbulkan perhitungan biaya yang terlalu rendah (undercosting) dan kekeliruan laba. Tujuan penelitian ini ada dua. Pertama, menghitung ulang HPP produk beton mutu K-350 menggunakan metode full costing yang menyeluruh. Kedua, menelaah dampak perbedaannya terhadap laba sesungguhnya dan siasat penetapan harga. Dengan menggunakan pendekatan berdasarkan jumlah (kuantitatif) melalui telaah kasus pada data produksi tahun 2024, penelitian ini menemukan hasil sebagai berikut: HPP menurut metode perusahaan adalah Rp. 897.000 per m³, sedangkan HPP menurut metode full costing adalah Rp. 1.035.000 per m³. Selisih undercosting sebesar Rp. 138.000 per m³ ini menyebabkan selisih keuntungan yang sesungguhnya menurun. Temuan ini membuktikan bahwa metode akuntansi biaya yang tidak menyeluruh menciptakan angan-angan keuntungan yang berbahaya dan menempatkan perusahaan pada risiko kegiatan usaha yang tinggi. Penelitian ini menyarankan penerapan segera metode full costing sebagai landasan pengambilan keputusan terencana untuk memastikan keberlangsungan usaha jangka panjang.
Copyrights © 2025