Perkembangan teknologi digital dan penetrasi media sosial yang masif telah memunculkan tantangan baru berupa maraknya hoaks dan disinformasi. Fenomena ini tidak hanya menimbulkan kebingungan informasi, tetapi juga berimplikasi serius terhadap kualitas demokrasi, stabilitas sosial, dan kepercayaan publik terhadap media. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola penyebaran hoaks di media sosial serta mengidentifikasi strategi literasi digital yang efektif dalam meningkatkan kesadaran publik. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan studi literatur dan analisis konten pada beberapa kasus penyebaran hoaks di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hoaks di media sosial banyak beredar melalui platform dengan jangkauan luas seperti WhatsApp, Facebook, dan Twitter, dengan isu utama terkait politik, kesehatan, dan agama. Minimnya keterampilan kritis dalam memilah informasi menjadi faktor utama tingginya kerentanan masyarakat terhadap disinformasi. Temuan ini memperlihatkan urgensi literasi digital sebagai upaya pencegahan sekaligus solusi. Strategi literasi digital yang efektif meliputi penguatan edukasi publik melalui kampanye berbasis komunitas, integrasi kurikulum literasi digital di lembaga pendidikan, kolaborasi antara pemerintah, media, dan masyarakat sipil, serta penggunaan teknologi verifikasi fakta yang mudah diakses. Kesimpulannya, literasi digital berperan penting dalam membangun daya tahan masyarakat terhadap hoaks dan disinformasi. Dengan penguasaan keterampilan literasi digital, masyarakat tidak hanya mampu mengenali informasi palsu, tetapi juga dapat berkontribusi dalam menciptakan ekosistem media yang sehat dan terpercaya. Penelitian ini diharapkan menjadi referensi bagi pengambil kebijakan, akademisi, serta praktisi komunikasi dalam merancang strategi pemberdayaan masyarakat di era digital.
Copyrights © 2025