Penelitian ini didasari oleh pergeseran fungsi RTH yang seharusnya mulai melibatkan banyak actor agar tercapainya pemanfaatan RTH secara maksimal, baik secara ekologi, lingkungan maupun social budaya. Namun, dalam praktiknya, pengelolaan dan pengembangan RTH masih menghadapi berbagai tantangan, seperti minimnya keterlibatan multi actor sehingga menjadikan beban yang cukup tinggi bagi DLH. Sehingga tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi aktor kunci yang berperan dalam proses koordinasi, dan dapat mengungkap pola collaborative governance dalam setiap tahapnya melalui metode SNA (Social Network Analysis) sehingga dapat menjawab tantangan pengelolaan dan pengembangan RTH. Hasil dari penelitian ini sendiri adalah DLH sebagai faktor dominan atau sebagai aktor kunci, disetiap tahapan yaitu tahapan assessment, initiation, deliberation, dan implementation sudah berjalan, tetapi tidak seimbang. DLH tampil sebagai aktor dominan di semua tahap, sementara dinas lain hanya berperan periferal atau bahkan tidak berkontribusi. Sehingga Penelitian ini merekomendasikan bahwa pengelolaan RTH ke depannya dapat dilakukan transisi dari pola jejaring “star network” menuju “collaborative network” yang lebih seimbang, dengan distribusi peran antar aktor, Pemerintah Kota Mataram dapat menetapkan regulasi atau kebijakan khusus yang mengatur kolaborasi lintas dinas dalam pengelolaan RTH, agar keberlanjutan lebih terjamin dan dapat membentuk forum komunikasi khusus pengelolaan RTH sebagai forum komunikasi aktif antar aktor.
Copyrights © 2025